Gross Profit Margin (GPM): Pengertian, Rumus, dan Contoh Perhitungan

Table of Contents

Gross Profit Margin (GPM) atau margin laba kotor merupakan salah satu rasio profitabilitas yang penting untuk dipahami oleh mahasiswa, investor pemula, maupun siapa saja yang ingin belajar menganalisis kinerja perusahaan melalui laporan keuangan.

Ketika membaca laporan laba rugi, kita tidak cukup hanya melihat apakah perusahaan memperoleh laba atau rugi. Hal yang tidak kalah penting adalah mengetahui seberapa besar laba yang dihasilkan perusahaan dari setiap rupiah penjualan setelah memperhitungkan biaya pokok penjualan.

Di sinilah Gross Profit Margin menjadi salah satu indikator yang berguna dalam analisis laporan keuangan.

Sebagai contoh, berdasarkan laporan keuangan konsolidasian PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), perusahaan mencatat penjualan neto sebesar Rp74,85 triliun dan laba bruto sebesar Rp26,36 triliun pada tahun 2025. Pada tahun 2024, penjualan neto mencapai sekitar Rp72,60 triliun, sedangkan laba bruto sebesar Rp26,89 triliun.


Apa Itu Gross Profit Margin?

Gross Profit Margin (GPM) adalah rasio yang menunjukkan persentase laba kotor yang diperoleh perusahaan dibandingkan dengan penjualan netonya.

Secara sederhana, GPM menjawab pertanyaan:

"Dari setiap Rp100 penjualan, berapa rupiah yang tersisa sebagai laba kotor setelah perusahaan membayar biaya pokok penjualan?"

Rasio ini sangat berguna terutama bagi perusahaan yang memiliki aktivitas produksi atau perdagangan karena dapat memberikan gambaran mengenai kemampuan perusahaan dalam mengendalikan biaya produksi atau biaya barang yang dijual.

Semakin tinggi GPM, secara umum semakin besar bagian penjualan yang tersisa setelah dikurangi beban pokok penjualan. Namun, GPM tidak boleh digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk menyimpulkan bahwa suatu perusahaan memiliki kinerja yang baik.

Rumus Gross Profit Margin

Rumus Gross Profit Margin relatif sederhana dan mudah digunakan dalam analisis laporan keuangan.

GPM = (Laba Kotor ÷ Penjualan Neto) × 100%

Sementara itu, laba kotor dapat dihitung dengan rumus:

Laba Kotor = Penjualan Neto − Beban Pokok Penjualan

Dengan demikian, analisis GPM dimulai dari dua komponen utama dalam laporan laba rugi, yaitu:

  1. Penjualan neto.
  2. Beban pokok penjualan.

Setelah laba kotor diperoleh, laba tersebut dibandingkan dengan penjualan neto untuk mendapatkan persentase Gross Profit Margin.

Contoh Perhitungan Gross Profit Margin ICBP

Untuk memahami cara menghitung GPM, kita dapat menggunakan data laporan keuangan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP).

Berdasarkan laporan laba rugi konsolidasian, ICBP mencatat data berikut:

Komponen 2025 2024
Penjualan Neto Rp74.850.923 juta Rp72.597.188 juta
Beban Pokok Penjualan Rp48.490.503 juta Rp45.704.099 juta
Laba Bruto Rp26.360.420 juta Rp26.893.089 juta

Angka tersebut berasal dari laporan laba rugi konsolidasian ICBP untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2025.

Menghitung GPM Tahun 2025

Rumus yang digunakan:

GPM = (Laba Kotor ÷ Penjualan Neto) × 100%

Masukkan data ICBP tahun 2025:

GPM 2025 = (Rp26.360.420 juta ÷ Rp74.850.923 juta) × 100%

Hasil perhitungan:

GPM 2025 ≈ 35,21%

Artinya, secara sederhana, dari setiap Rp100 penjualan ICBP pada tahun 2025, sekitar Rp35,21 tersisa sebagai laba kotor setelah dikurangi beban pokok penjualan.

Menghitung GPM Tahun 2024

Selanjutnya, kita menghitung GPM tahun 2024:

GPM 2024 = (Rp26.893.089 juta ÷ Rp72.597.188 juta) × 100%

Hasil perhitungan:

GPM 2024 ≈ 37,04%

Perbandingan Gross Profit Margin ICBP

Tahun Gross Profit Margin
2024 37,04%
2025 35,21%

Berdasarkan perhitungan tersebut, GPM ICBP mengalami penurunan sekitar 1,83 poin persentase, dari 37,04% pada tahun 2024 menjadi 35,21% pada tahun 2025.


Apa Arti Penurunan GPM ICBP?

Penurunan GPM tidak otomatis berarti perusahaan mengalami masalah atau kinerjanya memburuk secara keseluruhan.

GPM hanya menunjukkan hubungan antara laba kotor dan penjualan. Dalam kasus ICBP, penjualan neto meningkat dari sekitar Rp72,60 triliun pada 2024 menjadi Rp74,85 triliun pada 2025. Namun, laba bruto turun dari sekitar Rp26,89 triliun menjadi Rp26,36 triliun.

Kondisi tersebut menyebabkan margin laba kotor mengalami penurunan.

Pelajaran penting bagi mahasiswa dan investor:

Pertumbuhan penjualan tidak selalu berarti margin keuntungan meningkat.

Perusahaan dapat mengalami kenaikan penjualan, tetapi apabila biaya yang terkait dengan barang yang dijual meningkat lebih cepat, laba kotor dan GPM dapat mengalami tekanan.

Faktor yang Mempengaruhi Gross Profit Margin

Perubahan Gross Profit Margin dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berkaitan dengan aktivitas operasional perusahaan.

1. Harga Bahan Baku

Perusahaan manufaktur sangat dipengaruhi oleh perubahan harga bahan baku. Jika harga bahan baku meningkat dan perusahaan tidak dapat menaikkan harga jual secara proporsional, margin laba kotor dapat menurun.

2. Harga Jual Produk

Kenaikan harga jual dapat meningkatkan margin apabila kenaikan tersebut lebih besar daripada peningkatan biaya produksi.

Sebaliknya, perusahaan yang harus memberikan diskon atau menghadapi tekanan harga dari pesaing dapat mengalami penurunan margin.

3. Efisiensi Produksi

Efisiensi penggunaan bahan baku, tenaga kerja, energi, mesin, dan fasilitas produksi dapat memengaruhi beban pokok penjualan.

Semakin efisien proses produksi, semakin besar peluang perusahaan mempertahankan margin laba kotor.

4. Persaingan Industri

Persaingan yang semakin ketat dapat membuat perusahaan sulit menaikkan harga jual. Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan terhadap Gross Profit Margin.

5. Perubahan Produk

Komposisi produk yang dijual juga dapat memengaruhi GPM. Produk dengan margin tinggi dan produk dengan margin rendah dapat memberikan kontribusi yang berbeda terhadap laba kotor.


Mengapa Gross Profit Margin Penting bagi Investor?

Bagi investor, GPM dapat menjadi salah satu indikator awal untuk memahami kekuatan ekonomi bisnis perusahaan.

Perusahaan dengan margin laba kotor yang relatif tinggi dan stabil biasanya memiliki ruang yang lebih besar untuk menutup biaya operasional, biaya keuangan, pajak, dan pada akhirnya menghasilkan laba bersih.

Namun, investor sebaiknya tidak langsung menyimpulkan bahwa perusahaan dengan GPM tinggi pasti merupakan investasi yang lebih baik.

Investor juga perlu melihat:

  • Operating Profit Margin;
  • Net Profit Margin;
  • Return on Assets (ROA);
  • Return on Equity (ROE);
  • pertumbuhan pendapatan;
  • pertumbuhan laba;
  • arus kas;
  • tingkat utang;
  • efisiensi operasional; dan
  • valuasi saham.

Dengan kata lain, GPM merupakan salah satu bagian dari analisis fundamental, bukan satu-satunya indikator investasi.

Gross Profit Margin Tinggi vs Rendah

Secara umum, GPM yang lebih tinggi menunjukkan bahwa perusahaan memperoleh laba kotor yang lebih besar dari penjualannya.

Namun, tidak terdapat satu angka GPM yang dapat disebut "baik" untuk semua perusahaan. Hal ini karena karakteristik setiap industri berbeda-beda.

Perusahaan teknologi, manufaktur, ritel, makanan dan minuman, serta perusahaan komoditas memiliki struktur biaya yang berbeda.

Cara Membaca GPM dengan Lebih Baik

Gunakan tiga pendekatan berikut:

1. Analisis Tren

Bandingkan GPM perusahaan selama beberapa tahun untuk melihat apakah margin mengalami peningkatan, stabil, atau penurunan.

2. Analisis Industri

Bandingkan GPM perusahaan dengan perusahaan lain yang bergerak pada industri yang sama.

3. Analisis Penyebab

Jika GPM meningkat atau menurun secara signifikan, cari tahu penyebab perubahan tersebut melalui laporan keuangan dan catatan atas laporan keuangan.


Perbedaan Gross Profit Margin dan Net Profit Margin

Mahasiswa dan investor pemula sering kali mencampurkan Gross Profit Margin dengan Net Profit Margin. Padahal, kedua rasio tersebut memiliki fungsi yang berbeda.

Gross Profit Margin

GPM = Laba Kotor ÷ Penjualan × 100%

Net Profit Margin

NPM = Laba Bersih ÷ Penjualan × 100%

GPM menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba setelah memperhitungkan beban pokok penjualan.

Sementara itu, NPM menunjukkan berapa bagian dari penjualan yang akhirnya menjadi laba bersih setelah memperhitungkan berbagai beban lainnya.

Sebagai contoh, ICBP pada 2025 mencatat laba tahun berjalan sebesar sekitar Rp10,76 triliun, sementara laba bruto sebesar sekitar Rp26,36 triliun.


Cara Menghitung Gross Profit Margin untuk Tugas Mahasiswa

Bagi mahasiswa yang mendapatkan tugas analisis laporan keuangan, perhitungan GPM dapat dilakukan melalui langkah-langkah berikut.

Langkah 1: Cari Laporan Laba Rugi

Temukan laporan laba rugi perusahaan pada laporan tahunan atau laporan keuangan perusahaan.

Langkah 2: Cari Penjualan Neto

Catat nilai penjualan atau pendapatan bersih perusahaan.

Pada contoh ICBP, penjualan neto tahun 2025 adalah Rp74.850.923 juta.

Langkah 3: Cari Laba Bruto

Catat nilai laba bruto perusahaan. Pada contoh ICBP, laba bruto tahun 2025 adalah Rp26.360.420 juta.

Langkah 4: Masukkan ke Rumus

GPM = Laba Bruto ÷ Penjualan Neto × 100%

Langkah 5: Bandingkan dengan Tahun Sebelumnya

Bandingkan hasil GPM dengan tahun sebelumnya untuk mengetahui apakah margin mengalami peningkatan atau penurunan.

Langkah 6: Cari Penyebab Perubahan

Jangan berhenti pada angka. Periksa perubahan penjualan dan beban pokok penjualan untuk memahami faktor yang menyebabkan perubahan margin.


Contoh Kesimpulan Analisis GPM ICBP

Berdasarkan perhitungan menggunakan data laporan keuangan, Gross Profit Margin PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk sebesar 37,04% pada 2024 dan 35,21% pada 2025.

Dengan demikian, terjadi penurunan GPM sekitar 1,83 poin persentase.

Penjualan neto perusahaan meningkat pada periode tersebut, tetapi laba bruto mengalami penurunan. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan penjualan belum secara langsung menghasilkan peningkatan margin laba kotor.

Bagi investor, kondisi tersebut layak menjadi bahan analisis lebih lanjut, terutama dengan melihat perkembangan biaya produksi, strategi harga, kondisi industri, serta rasio profitabilitas lainnya.


Kesalahan yang Sering Dilakukan Saat Menggunakan GPM

1. Hanya Melihat Satu Tahun

GPM satu tahun belum cukup untuk menunjukkan pola kinerja perusahaan. Gunakan data beberapa tahun apabila tersedia.

2. Menganggap GPM Tinggi Selalu Berarti Perusahaan Bagus

Margin yang tinggi perlu dibandingkan dengan industri dan perusahaan sejenis.

3. Tidak Memperhatikan Beban Pokok Penjualan

Perubahan GPM sangat berkaitan dengan hubungan antara penjualan dan beban pokok penjualan.

4. Menggunakan GPM sebagai Satu-satunya Dasar Investasi

Investor perlu mengombinasikan GPM dengan analisis fundamental lainnya.

5. Tidak Membaca Laporan Keuangan Secara Keseluruhan

Rasio keuangan sebaiknya digunakan bersama informasi lain, termasuk neraca, laporan arus kas, laporan laba rugi, dan catatan atas laporan keuangan.


Kesimpulan

Gross Profit Margin (GPM) merupakan rasio profitabilitas yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba kotor dari penjualannya setelah memperhitungkan beban pokok penjualan.

Rumusnya sederhana:

GPM = (Laba Kotor ÷ Penjualan Neto) × 100%

Contoh PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk menunjukkan bahwa GPM berada pada sekitar 37,04% pada 2024 dan 35,21% pada 2025. Artinya, setiap Rp100 penjualan menghasilkan sekitar Rp35,21 laba kotor pada 2025.

Bagi mahasiswa, GPM dapat digunakan untuk memahami hubungan antara penjualan, biaya, dan laba. Bagi investor pemula, rasio ini dapat menjadi salah satu alat untuk melakukan analisis fundamental.

Yang paling penting, jangan hanya melihat apakah GPM tinggi atau rendah. Perhatikan arah perubahannya, bandingkan dengan perusahaan sejenis, dan pahami faktor yang menyebabkan perubahan tersebut.

Dengan pendekatan tersebut, Gross Profit Margin bukan sekadar angka dalam laporan keuangan, tetapi dapat menjadi alat untuk memahami seberapa efektif perusahaan mengubah penjualan menjadi laba kotor.


FAQ tentang Gross Profit Margin

Apa itu Gross Profit Margin?

Gross Profit Margin adalah rasio yang menunjukkan persentase laba kotor terhadap penjualan neto perusahaan.

Apa rumus Gross Profit Margin?

Rumus GPM adalah: GPM = (Laba Kotor ÷ Penjualan Neto) × 100%.

Apakah Gross Profit Margin semakin tinggi semakin baik?

Secara umum, margin yang lebih tinggi menunjukkan kemampuan menghasilkan laba kotor yang lebih besar dari penjualan. Namun, GPM harus dibandingkan dengan periode sebelumnya dan perusahaan dalam industri yang sama.

Apa perbedaan GPM dan NPM?

GPM menggunakan laba kotor, sedangkan NPM menggunakan laba bersih. GPM berfokus pada profitabilitas setelah beban pokok penjualan, sedangkan NPM memperhitungkan seluruh komponen hingga laba bersih.

Mengapa GPM perusahaan dapat turun?

GPM dapat turun karena kenaikan harga bahan baku, peningkatan biaya produksi, tekanan harga jual, perubahan komposisi produk, atau meningkatnya persaingan.

Apakah GPM dapat digunakan untuk memilih saham?

GPM dapat digunakan sebagai salah satu indikator dalam analisis fundamental, tetapi sebaiknya tidak digunakan sebagai satu-satunya dasar dalam mengambil keputusan investasi.


Ringkasan Artikel

Rasio Gross Profit Margin (GPM)
Fungsi Mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba kotor dari penjualan
Rumus Laba Kotor ÷ Penjualan Neto × 100%
Contoh ICBP 2024 37,04%
Contoh ICBP 2025 35,21%
Perubahan Turun sekitar 1,83 poin persentase